Oleh: Martayadi Tajuddin
Pengamat Kebijakan Publik
Pengamat Kebijakan Publik
JAMBI – Proses seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi yang sedang berlangsung sesungguhnya bukan sekadar agenda administratif pengisian jabatan birokrasi. Lebih dari itu, proses ini merupakan cermin arah tata kelola pemerintahan yang ingin dibangun di daerah ini: apakah birokrasi akan dikelola melalui sistem merit atau justru tersandera oleh politik loyalitas. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, namun di dalamnya terkandung konsekuensi besar bagi masa depan pemerintahan daerah.
Dalam negara modern, jabatan publik bukanlah hadiah melainkan instrumen pelayanan masyarakat. Karena itu, setiap posisi strategis dalam birokrasi seharusnya diberikan kepada individu yang memiliki kapasitas terbaik, integritas terbaik, dan rekam jejak terbaik. Sayangnya, dalam praktik pemerintahan di banyak daerah, termasuk yang kerap menjadi perbincangan publik, ukuran tersebut sering kali bergeser. Kompetensi tidak lagi menjadi satu-satunya mata uang utama, melainkan muncul pertanyaan lain yang lebih politis: siapa yang paling dekat, siapa yang paling aman, dan siapa yang paling loyal.
Di titik inilah birokrasi mulai kehilangan ruh profesionalismenya karena loyalitas ditempatkan lebih tinggi daripada kompetensi. Ketika kedekatan menjadi pertimbangan utama, maka proses seleksi kehilangan makna substantifnya di mana kompetensi berubah menjadi formalitas dan rekam jejak hanya menjadi pelengkap administrasi. Sementara keputusan sesungguhnya telah ditentukan oleh variabel yang tidak pernah tercantum dalam dokumen seleksi. Jika itu terjadi, maka yang sedang dibangun bukanlah birokrasi profesional, melainkan birokrasi patronase.
Literatur administrasi publik telah lama menjelaskan bahwa birokrasi patronase menghasilkan aparatur yang cenderung mengabdi kepada kekuasaan, bukan kepada kepentingan publik. Orientasi kerja bergeser dari pelayanan menjadi pencarian restu, inovasi menurun, kritik menghilang, dan keberanian menyampaikan fakta yang berbeda perlahan dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, organisasi memang terlihat tenang, namun sesungguhnya sedang mengalami kemunduran. Birokrasi yang sehat bukanlah birokrasi yang dipenuhi orang-orang yang selalu mengatakan “siap laksanakan”, melainkan diisi oleh orang-orang yang mampu berpikir, menganalisis, memberikan alternatif solusi, bahkan berani mengingatkan pemimpinnya ketika sebuah kebijakan berpotensi keliru.
Baca Juga : MAHALNYA HARGA SP3: TIKET EMAS ARIANSYAH LOLOS DARI LAPAS HINGGA JADI PEJABAT DENGAN LHKPN MATI SURI
Karena itu, ukuran loyalitas dalam birokrasi harus diletakkan pada tempat yang benar. Loyalitas yang dibutuhkan negara bukan loyalitas kepada individu, melainkan loyalitas kepada konstitusi, kepada aturan hukum, kepada visi pembangunan, dan kepada kepentingan masyarakat. Seorang pejabat yang profesional akan tetap loyal kepada pimpinan selama kebijakan yang dijalankan bertujuan untuk kepentingan publik, namun ia juga memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran ketika diperlukan. Itulah bentuk loyalitas yang sesungguhnya.
Momentum seleksi JPT Pratama di Provinsi Jambi saat ini menjadi kesempatan penting untuk membuktikan bahwa sistem merit bukan sekadar slogan yang indah dalam dokumen reformasi birokrasi. Publik ingin melihat bahwa kompetensi masih dihargai, rekam jejak masih memiliki arti, dan integritas masih menjadi pertimbangan utama. Sebab pada akhirnya masyarakat tidak pernah merasakan manfaat dari loyalitas seorang pejabat kepada atasannya, melainkan kualitas pelayanan publik, efektivitas pembangunan, kecepatan birokrasi, dan kemampuan pemerintah menyelesaikan persoalan daerah. Rakyat tidak peduli siapa yang paling dekat dengan kekuasaan, rakyat hanya peduli siapa yang paling mampu bekerja.
Di sinilah kepemimpinan seorang gubernur diuji secara nyata. Pemimpin besar tidak dikelilingi oleh orang-orang yang hanya setia kepada dirinya, melainkan membangun sistem yang mampu menghadirkan orang-orang terbaik untuk melayani rakyat. Karena sejarah tidak pernah memberikan penghargaan kepada mereka yang paling loyal kepada kekuasaan, melainkan mencatat mereka yang berani menempatkan kepentingan publik di atas segala kepentingan lainnya. Dan untuk itu, satu prinsip harus tetap dijaga: Jabatan bukan hadiah loyalitas, jabatan adalah amanah kompetensi.



